Bingung cara menghitung ROI? Gunakan Kalkulator ROI Usaha Online Gratis ini untuk menghitung seberapa besar keuntungan dibanding modal yang kamu tanam. Hasilnya menampilkan ROI dalam persen, estimasi ROI tahunan, dan perkiraan waktu balik modal. ROI (Return on Investment) adalah ukuran sederhana untuk mengetahui seberapa efisien modalmu bekerja menghasilkan laba. Dengan menghitung ROI, kamu bisa tahu apakah investasi atau usaha yang dijalankan memberikan hasil yang sepadan.
Kalkulator ROI (Return on Investment)
Hitung ROI %, ROI tahunan (opsional), & estimasi waktu balik modal.
Masukkan modal & laba untuk melihat ROI.
Keterangan setiap kolom input:
- Modal Awal (Rp): Jumlah dana yang kamu keluarkan untuk memulai bisnis, termasuk pembelian peralatan, stok awal, atau biaya setup.
- Laba Bersih (Rp): Total keuntungan bersih setelah dikurangi semua biaya operasional dan pajak dalam satu periode.
- Periode Laba (bulan): Durasi waktu yang mewakili laba yang dimasukkan. Contoh: kalau laba Rp3 juta diperoleh selama 3 bulan, isi dengan angka 3.
- Setelah semua data diisi, klik “Hitung” untuk melihat ROI, ROI tahunan, dan estimasi waktu balik modal. Klik “Reset” jika ingin mengulang perhitungan.
Kenapa perlu menghitung ROI secara rutin:
- Menilai kinerja bisnis: Apakah usaha kamu benar-benar menguntungkan atau hanya terlihat ramai tapi margin tipis.
- Membandingkan peluang investasi: Kamu bisa tahu proyek mana yang paling cepat balik modal.
- Membantu pengambilan keputusan: ROI rendah bisa berarti saatnya menaikkan harga, menekan biaya, atau mengganti strategi.
- Mengukur efisiensi waktu: ROI tahunan memberi gambaran berapa persen keuntungan efektif setiap tahun dari modal yang sama.

Fokus: menghitung seberapa efisien modal kamu menghasilkan uang.
Rumus utama cara menghitung ROI:
ROI (%) = (Laba Bersih ÷ Modal Awal) × 100
Kapan dipakai:
Sesudah usaha berjalan (untuk evaluasi investasi).
Gunanya: menilai apakah bisnis atau proyek kamu layak dilanjutkan.
Contoh:
Modal awal Rp10.000.000, laba bersih Rp3.000.000 → ROI = 30%.
Artinya setiap Rp1 juta modal menghasilkan Rp300 ribu keuntungan.
Setelah tahu apa itu ROI, kamu bisa mengkalkulasinya dengan mudah. Selalu gunakan Kalkulator ROI Online Gratis ini jika kamu memerlukannya kapan saja. Cukup masukkan modal awal, laba bersih, periode laba yang kamu inginkan — dan sistem akan langsung menampilkan hasil perhitungannya.
Coba juga kalkulator lainnya:
Sejarah dan Pandangan Ahli tentang Cara Menghitung ROI (Return on Investment)
Istilah Return on Investment atau ROI terdengar modern, tapi gagasan di baliknya sudah ada sejak manusia pertama kali menanamkan sumber daya untuk mendapatkan hasil lebih. Inti dari ROI adalah pertanyaan sederhana namun mendasar: “Seberapa besar hasil yang saya dapat dibandingkan dengan apa yang saya korbankan?”
Dalam sejarah ekonomi, bentuk paling awal dari cara menghitung ROI bisa ditelusuri ke para pedagang di Venesia dan Genova pada abad ke-14. Para saudagar kapal waktu itu menuliskan catatan sederhana — modal pelayaran, biaya logistik, dan hasil dagang di pelabuhan lain — lalu membandingkannya untuk menentukan apakah ekspedisi tersebut “layak diulang.” Itu sudah merupakan bentuk paling awal dari return analysis sebelum istilah ROI lahir secara resmi.
Memasuki abad ke-19, ketika perdagangan internasional semakin terorganisasi, konsep efisiensi modal mulai dibahas oleh David Ricardo, ekonom klasik asal Inggris. Dalam bukunya Principles of Political Economy and Taxation (1817), Ricardo menjelaskan bahwa setiap pemilik modal secara alami mencari “pengembalian tertinggi dari penggunaan terbaik modalnya.” Ia menekankan bahwa laba tidak hanya tergantung pada besar kecilnya modal, tapi juga pada seberapa bijak modal itu dialokasikan. Pemikiran ini menjadi dasar teori produktivitas modal — cikal bakal cara berpikir ROI modern.

Di awal abad ke-20, perkembangan dunia keuangan membuat konsep ROI lebih matematis. Analis investasi seperti John Burr Williams (penulis The Theory of Investment Value, 1938) memperkenalkan cara menilai investasi berdasarkan nilai sekarang dari hasil di masa depan, yang kini dikenal sebagai discounted cash flow. Sementara itu, para akuntan perusahaan besar seperti General Motors dan DuPont mulai menghitung return bukan sekadar laba, tetapi sebagai rasio antara laba bersih dan total aset yang digunakan. Dari sinilah istilah Return on Investment resmi muncul dalam laporan keuangan korporasi.
Namun ROI bukan hanya ukuran finansial. Dalam pandangan Herbert Simon, peraih Nobel Ekonomi tahun 1978, manusia tidak selalu membuat keputusan ekonomi secara sempurna.
Ia memperkenalkan konsep bounded rationality — keterbatasan rasionalitas manusia dalam memproses informasi dan memperkirakan hasil. Menurut Simon, ROI seharusnya digunakan bukan hanya untuk mencari hasil maksimal, tapi juga sebagai alat untuk membatasi kesalahan pengambilan keputusan. Dengan menghitung ROI, pengusaha bisa menilai apakah keputusan mereka realistis dibandingkan dengan sumber daya yang ada.
Seiring waktu, ROI juga berkembang menjadi alat komunikasi antara investor dan pengelola bisnis. Di dunia perbankan dan investasi, ROI menjadi bahasa universal untuk menilai seberapa efisien modal digunakan. Namun di luar sektor keuangan, konsep ini meluas ke banyak bidang — pendidikan, pemasaran, bahkan kesehatan. Misalnya, dalam dunia digital marketing, ROI digunakan untuk menilai efektivitas iklan: berapa rupiah hasil penjualan yang diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Sementara di sektor sosial, organisasi nirlaba mengukur Social ROI (SROI) untuk menilai dampak sosial dari program yang dijalankan.

Tokoh keuangan modern George Soros pernah mengatakan bahwa “tidak ada investasi tanpa teori tentang bagaimana dunia bekerja.” Pandangan ini menegaskan bahwa ROI tidak berdiri sendiri. Angka itu hanya bermakna jika didasari pemahaman tentang konteks bisnis, tren pasar, dan risiko yang mungkin terjadi. Karena itu, seorang pengusaha tidak cukup tahu berapa ROI-nya, tapi juga mengapa ROI-nya seperti itu — apakah karena efisiensi biaya, peningkatan permintaan, atau sekadar faktor keberuntungan sesaat.
Dalam praktiknya, dengan mengetahui cara menghitung ROI memberi tiga manfaat utama:
Menilai efektivitas modal. Apakah modal benar-benar menghasilkan nilai tambah, atau justru mengendap tanpa produktivitas.
Membandingkan alternatif. Dengan ROI, pelaku usaha bisa menilai mana dari dua investasi yang memberikan hasil lebih efisien.
Meningkatkan disiplin finansial. Setiap keputusan jadi berbasis data, bukan sekadar intuisi.
Untuk pelaku UMKM, ROI membantu menjawab pertanyaan sehari-hari:
– Apakah membeli mesin baru lebih baik daripada menambah tenaga kerja?
– Apakah promosi di media sosial lebih efektif daripada spanduk di depan toko?
Dengan menghitung ROI, setiap rupiah pengeluaran menjadi eksperimen yang bisa dievaluasi. Kesalahan tidak lagi jadi kerugian, tapi data untuk memperbaiki strategi berikutnya.
Dalam teori manajemen modern, Michael Porter menekankan bahwa keunggulan kompetitif tidak hanya soal produk, tapi juga soal efisiensi rantai nilai. ROI yang baik bukan berarti sekadar laba besar, melainkan kemampuan menciptakan nilai lebih cepat dan lebih murah dibanding pesaing. Inilah mengapa ROI menjadi indikator kinerja utama (key performance indicator) di hampir semua perusahaan — dari startup hingga konglomerat.
Di era digital sekarang, ROI bahkan menjadi bagian dari algoritma. Platform seperti Google Ads dan Meta Ads otomatis mengukur conversion ROI untuk menentukan apakah kampanye iklan layak dilanjutkan. Teknologi mempermudah, tapi tidak menggantikan intuisi manusia: pemilik bisnis tetap harus tahu apa arti angka dari cara menghitung ROI itu bagi strategi jangka panjangnya.
Jika melihat dari perjalanan sejarah — dari pedagang laut abad pertengahan, Ricardo yang menulis tentang efisiensi modal, hingga Porter dengan strategi modernnya — satu benang merah terlihat jelas:
ROI adalah cermin dari kemampuan manusia mengubah sumber daya menjadi nilai.
Angka ROI hanyalah hasil akhir. Yang lebih penting adalah proses berpikir di baliknya: mengukur, membandingkan, lalu belajar dari hasilnya. Ketika dipahami dengan benar, cara menghitung ROI bukan hanya rumus keuangan, tapi filosofi manajemen — seni menyeimbangkan risiko, waktu, dan hasil untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
